Senin, 13 April 2015

$@&$@&$

Selamat Malam. Agak malu rasanya dan sedikit agak bingung ketika buka laman Blog. Saya tahu, Blog kalau bisa ngomong pasti bilang "Ini yang empunya Blog kenapa datang pas lagi ada maunya ya" hei hei heiii... Tenang. Saya di sini datang membawa kedamaian hehe. The first, i want to say... Senang berjumpa denganmu lagi Blog. Biarkan aku lebih lebih sering menyapamu sekarang, karena kamu yang selalu mau dan sudi mendengarkanku, wataaaaaaaau :D

Sabtu, 31 Januari 2015

Untitle

Setiap kejadian atau peristiwa tentu harus ada satu hal yang kita ambil sisi positifnya, minimal untuk kebaikan diri sendiri.
Termasuk 'penyadaran' pada diri kita bahwa pentingnya menjaga diri. Siapa lagi yang mau menjaga diri setulus hati tanpa menyakiti kalau bukan diri ini, bukan?
Penyadaran itu kadang datang darimana saja. Sakeras apapun penyadaran itu, tentu kita harus mengucapkan terima kasih. Karena setidaknya kita telah disadarkan bahwa itu tidak baik atau bahkan tidak tepat.
Penyadaran apapun itu, percayalah melalui dia yang mengingatkan, Tuhan memberimu isyarat bahwa Dia masih mencintaimu. Termasuk penyadaran, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk mencintai seseorang.
Terlalu lama menjaga hati agar tak menambah (bekas) luka, terlalu lama menjaga diri agar tak lagi merasakan hidup yang sia-sia.

Semoga diberikan yang terbaik :)
Nb: Dan percayalah, hanya dengan mencintaiNya, kita tak akan merasakan yang namanya patah. Patah semangat, patah harapan ataupun patah hati. Allah bless us :)

Minggu, 11 Januari 2015

14:48

Risiko bekerja di dunia ini, mendapat jam kerja yang yaaaa may i say that ubnormal. But im enjoying my work (always).
19:26 WIB masih di depan komputer. Redaktur belum memberi kode untuk minta cek berita.
I have not idea for write something, but now too bored just for sit at my chair.
Well, after the watched movie by Merry Riana. Pesan yang disampaikan dapet banget, sangat menginspirasi. Tapi tetap saja, bukunya lebih enak 'dinikmati' dibanding filmnya (menurut saya lho).
Cuma inget satu kalimat aja yang 'nyes' di ulu hati, 'See How Much I Like You'.
Hey there, before, i dont think u can get my heart. But i think now i can say, see how much i love u, Mr.A. #Eaaaaaaaak
Ini hanya mengisi kekosongan waktu yang hanya beberapa menit. Have a good sleep for u, and happy working for me and team :)

Kamis, 08 Januari 2015

What the Mean of 'Serious' ?

'Sudah ku katakan aku bukan orang sempurna, kenapa kau mau denganku' pasti kalimat itu yang akan keluar ketika debat besar datang. Mendadak ingin membuka tulisan ini dengan kalimat tadi. Karena sebenarnya salah satu faktor penting dalam hubungan, ya mau menerima kekurangan pasangan.
Ya, masalah dengan siapa di masa depan, tentu menjadi sebuah misteri yang sulit ditemukan jawabannya. Dan hanya waktu yang bisa menjawab.
Sekarang sudah masuk 2015, dan umur kini sudah berada di pertengahan 23. Sulit memang menjalani hidup di perdesaan dengan umur yang katanya sudah matang. But actually, saat ini saya jauh dari matang. Kecuali ada yang mau meyakinkan dan membantu saya untuk mematangkan diri, hingga tak menganggap diri sebagai anak yang masih bersembunyi di ketek orang tua.
Satu persatu teman seperjuangan baik di SD,  SMP, SMA, kuliah telah gagah berani melepas masa sendirinya, dan tentu teman untuk diajak diskusi masalah pernikahan semakin banyak. Hehe
Untuk list calon pengantin di 2015 saja sudah banyak. Dududuuuuu.... Jadi aku kapan? Hehe
Ya, masalah kalimat pembuka tadi. Sulit ga sulit memang menjalani hubungan, terlebih wanita seperti saya yang kadang hanya ingin dimengerti, tanpa ingin mengerti, (terkadang ya hehe). Cuek yang kadang tak suka dicuekkan. Dan maaaaaaasih banyak kekurangan, saking banyaknya sampai bingung harus menulis apa yang patut untuk dipublikasikan. Meski sebenarnya tidak terlalu penting, dan hanya penting bagi pasanganku nanti :)
Ada yang bilang, mending dicintai daripada mencintai. Namun apa dengan berjalannya waktu hal demikian akan tetap sama? Apa dia akan selalu mencintai kita? Apa dia akan selalu menerima kekurangan kita?
Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan agar tidak salah memilih pendamping untuk menemani hingga akhir hayat nanti.
Oke, masalah hubungan serius. Suka agak bingung dengan istilah hubungan serius tapi nyatanya tidak ada hal serius. Semuanya biasa. Apa saya yang terlalu dalam memahami kata serius? Karena dalam KBBI, serius berarti sungguh-sungguh, tidak bergurau.
Segera pecahkan misteri ini Tuhan.
Nb: Teman-teman rempong yang membaca tulisan ini pasti bilang 'cie Eka pengen nikah'
Oke, saya sudah siapkan lagu alternatif yang keras dan headset biar ga genger ocehan kalian. Hehe

Sabtu, 08 November 2014

Jangan Asal Mimpi

Well, kegalauan setelah selesai pendidikan masih berlanjut sampai sekarang. Bukan karena kurang jajan, melainkan karena pekerjaan. fuuuuhhhh....
Masih sangat ingat beberapa tahun lalu memiliki mimpi untuk menjadi seorang jurnalis di PBSI. Keinginan tersebut muncul karena kecintaan saya terhadap (pemain) bulutangkis.
Ya, beberapa tahun lalu sangat tidak ingin melewatkan ajang bulutangkis di mana pun, link livestreaming pasti diburu hanya untuk memuaskan hati menonton bulutangkis.
Sampai akhirnya, Saya menulis "i wanna be a Journalist" dan ditempel di papan pengumuman dinding kamar. Sangat iri ketika melihat para fotografer berjejer di pinggir
lapang untuk mengambil gambar pemain, setelah selesai bermain mereka berlari ke ruang Conferrence Pers dan bonusnya, selain bisa wawancara dan berhadapan langsung
mereka juga bisa berfoto bersama. Terakhir, yang bikin saya iri, mereka bisa ke luar negeri untuk meliput. Aaaaaaaaaaaaaak...

Meski sekarang memantau badminton hanya sekadarnya tidak seperti dulu, namun keinginan untuk bekerja di PBSI masih sangat gila.
Dulu, jika memikirkan jalan untuk menjadi Jurnalis sangat gelap. Tidak memiliki teman yang bergelut di dunia jurnalis, dan kemampuan menulis berita masih minim hanya
bermodalkan belajar dua semester tentang jurnalistik, yakni Dasar-dasar Jurnalistik dan Bahasa Jurnalistik. Karena terlalu mencintai dunia jurnalis,
tugas akhir skripsi pun masih berhubungan dengan jurnalistik.
Singkat cerita, Saya rasa ini jawaban doa yang saya pinta dulu, saya bekerja di dunia jurnalistik. Meski hanya koran lokal, namun saya jadikan tempat untuk belajar.
Ada yang bilang, jika belajar di kampus, ini tempat kerja. Sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut, saya belajar di mana pun, di tempat kerja saya belajar.
Menanggapi pernyataan tersebut juga saya jadikan pelajaran, belajar sabar menanggapi pernyataan yang tidak Saya setujui dan tetap menghargainya.
Tentang doa, Tuhan selalu menunjukkan yang terbaik. Dan saya percaya dengan tiga jawaban doa, yakni yang pertama Tuhan akan langsung menjawab doamu,
Kedua, doa akan dikabulkan namun menunggu waktu yang tepat dan yang terakhir, Tuhan tidak mengabulkan doa yang kamu minta namun Tuhan akan menggantinya dengan yang
lebih baik.
Semoga ini jadi langkah awal untuk saya berjalan ke PBSI, bermodalkan list mimpi yang ditulis di Papan, doa dan usaha keras yang akan saya jalankan. Mudah-mudahan mendapat ridho-Nya.
Well peoples, jika bermimpi pikirkan matang-matang dan jangan tanggung-tanggung. Sesuaikan dengan bidang yang kamu cintai, tulis list mimpi kamu dan tempel di dinding kamar dekat
tempat tidur agar terlihat dan diucapkan dalam doa setiap mau tidur dan bangun tidur. Mimpi setinggi langit ya, jadikan motivasi dan jangan takut untuk jatuh. Good Luck untuk kita semua.

Anyway, di bawah ini foto-foto papan yang ada di kamar. List impian saya. Mulai keinginan masa depan hingga kebutuhan masa depan.
Mau punya rumah impian, suami impian, punya mobil sendiri hingga tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Bismillah .. semoga tercapai.

Kamis, 25 September 2014

Terbaik

Berbicara masalah terbaik, tentu kata terbaik datang tidak secara tiba-tiba, kata tersebut datang dari tergantung orang yang menilai, bisa berupa objektif maupun subjektif. Kadang kita dituntut untuk menilai dan menentukan siapa yang yang terbaik diantara banyak yang baik. Namun kadang “terbaik” datang ketika kita sudah kehilangan dan sudah secara matang berpikir sehingga dapat menyimpulkannya.
Tulisan ini ditulis ketika saya merasa sudah kehilangan mereka, orang-orang terbaik yang selama empat tahun ini menemani saya. Saya bukan orang yang pintar memperlihatkan kesedihan secara langsung, namun melalui ini lah saya dapat menyampaikannya.
Dasar sifat saya yang (kadang) sok kenal sok dekat membuat saya lebih dekat dengan beliau di antara mahasiswa yang lain (mungkin). Banyak ilmu yang saya dapatkan dari beliau melalui obrolan-obrolan sederhana (dibaca:rumpi) di ruang prodi, tentang apapun itu, saya selalu mencuri hal yang asing bagi saya. Tidak malu saya bertanya cara membuka box file secara polos, dan alhasil seminggu setelah itu ditempat ngajar saya ditugaskan mencari absensi di box file yang jenisnya sama.
Beberapa tahun lalu saha pernah bilang, “Eka mah nganggep bapak bukan cuma dosen, tapi kayak ke kakak” padahal kan saya ga tau rasanya punya kakak seperti apa. Begitulah.. kepolosan saya kadang membuat orang terjebak. Dan pada akhirnya sampai sekarang saya selalu meminta layaknya adik, termasuk minta jajan meski ga pernah diberi hahaha...
Terimakasih pak, telah memberikan saya kesempatan untuk belajar lebih tentang apapun.
Terima kasih pak, telah menjadi kakak yang selalu memberi saran yang kadang disampaikan dengan memakai lebih banyak bumbu pedas.
Terima kasih pak, Terima kasih... semoga mahasiswa PBSI Lebih baik dari kita (angkatan 2010), Terima kasih Bapak David Setiadi.
Terbaik “lain” juga ingin kusampaikan kepada teman tercinta Reni dan Bebeng..  agak nyesek ketika mendengar Bebeng untuk angkat koper, memilih pulang ke Sagaranten. Terima kasih “aa” selalu menemani saya berkuliner ria, meneguk kopitiam bersama, riweuh bersama danlainlain. Sungguh, aku galau tanpa teman sepertimu, weeekkkss..
Reni, meski tidak jarang kita berselisih paham namun saya akui kamu teman terbaik (belanja) saya hahaha... teman kuliner, teman curhat, teman belanja, dan lain-lain. Meski kadang kita bertiga berbeda pendapat, namun kita memiliki kesamaan dalam hal jodoh yang belum juga datang. Dan buruknya, 'kutukan' itu masih berlanjut sampai wisuda.
Semoga kita selalu diberikan kesehatan, pekerjaan yang sesuai dengan hati, gaji yang cukup (untuk bekal hidup se-RT), semoga selalu disangka banyak uang terus (karena ucapan adalah doa), dan semoga kita cepat dipertemukan dengan yang “Terbaik” masing-masing (dibaca:Jodoh) ujung-ujungnya teteeeep
Amin Allahuma Amin..
Selamat kalian menjadi lulusan terbaik di hatiku, meski tidak disebutkan oleh rektor namun kalian disebutkan dalam urutan doaku. 

Sabtu, 13 September 2014

Doa Malam

Terlalu naif jika saya mengatakan tidak senang diajak nikah.
namun kadang kekagetan menyertai proses tersebut.
Mencari yang terbaik juga hak seorang wanita bukan?
Meski jodoh memang sudah ditakdirkan, namun yang menentukan kapan bertemu ya kita. Dengan ikhtiar yang tiada henti, sampai dipertemukan dengan pilihan-Nya.
Terlalu lama saya mengunci hati, kekuatan penuh saya kerahkan untuk menjaga hati. Terlalu lama saya harus menata hati menjadi utuh kembali.
Hati saya terlalu berharga untuk dilukai (lagi).
Tuhan.. maaf bila saya terlalu mencintai diri..
Sekarang, hamba serahkan sepenuhnya pada-Mu.
Kau yang mampu membolak-balikkan hati manusia..
Hamba sadar akan diri yang tidak lepas dari larangan-Mu, namun hamba terus berusaha meminta kapada-Mu untuk diberikan yang terbaik.
Hamba hanya manusia yang tak tahu kadar diri, selalu meminta nikmat tiada henti.
Sungguh, hamba hanya menginginkan yang terbaik. Bukan hanya untuk hamba-Mu ini, tapi untuk orang tua hamba, adik dan keluarga.

Diberdayakan oleh Blogger.