Senin, 14 Januari 2013

Analisis Feminisme pada Cerpen Bukumuka



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Salah satu fenomena menarik dalam khasanah sastra Indonesia akhir-akhir ini adalah munculnya sejumlah pengarang perempuan, yang pada umumnya merupakan generasi muda. Karya-karya mereka mendapat sambutan yang menggembirakan  dari publik pembaca. Lahirnya sejumlah sastrawan perempuan tersebut tampaknya bukan suatu kebetulan, tetapi memiliki hubungan yang tak terpisahkan dengan transformasi sosio kultural Indonesia, yang antara lain  merupakan hasil perjuangan para feminis.
Para feminis dan pejuang emansipasi wanita ingin mendudukan eksistensi perempuan dalam kesetaraan gender. Di samping itu, ada fenomena menarik pada beberapa karya para pengarang perempuan tersebut, antara lain dalam hal mengangkat dan menggambarkan tema yang berhubungan dengan seks dan cinta.  Pada karya-karya sastra sebelumnya, baik yang ditulis oleh sastrawan pria maupun perempuan, ketika menggambarkan pengalaman seks cenderung metaforis dan tersamar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, melalui penelitian ini di samping dilihat dan dipahami fenomena seks apa sajakah yang digambarkan dalam karya para sastrawan perempuan,  bagaimana mereka menggambarkan masalah seks,  hubungan fenomena seks dengan unsur fiksi, relasi perempuan dengan laki-laki dalam hubungan seks, juga aliran feminisme yang mendasari pandangan mereka.
Kata seksualitas menjadi topik utama yang akan diperbincangkan. Ketertarikan masalah ini yang sangat menonjol dan penuh dengan unsur kegairahan dan mampu memporakporandakan kehidupan apabila disalahgunakan. Dulu hal tersebut dianggap sangat tabu yang kini justru dieksploitasi habis-habisan. Sampai pada tahap yang begitu memerihatinkan pelecehan aksi seksualitas yang menyimpang terjadi pada kalangan remaja. Banyak sekali fakta-fakta yang menyoroti kejadian tersebut.


1.2  Alasan Pemilihan Korpus
Karya sastra diklasifikasikan ke dalam beberapa kajian, diantaranya yaitu: kajian struktural semiotik, kajian sosiologi sastra, kajian resepsi sastra, dan kajian feminisme. Cerpen yang dianalisis yaitu Bukumuka karya Djenar Maesa Ayu dan Nugroho Kusmanto yang bertemakan Perselingkuhan. Cerpen bukumuka ini ditulis oleh djenar tanpa konsep namun tetap tertata rapi. Didalamnya bercerita tentang perselingkuhan yaitu Ayu dan Kusmanto hubungan perselingkuhan itu terjadi karena Ayu merasa tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan dari suaminya sendiri.

1.3  Pengarang dan Karyanya
Cerpen BUKUMUKA ini ditulis oleh dua orang yakni Djenar Maesa Ayu dan Nugroho Kusmanto. Djenar merupakan penulis Indonesia yang lahir di Jakarta pada 14 Januari 1973. Dari seni yang dimiliki Djenar dan itu didapatkan dari kedua orangtuanya yang merupakan seniman, ayahnya merupakan Sutradara legendaris Syuman Djaya dan Aktris Tutie Kirana. Dalam keseharian ia adalah Ibu dari Bidari Maharani dan Banyu Bening.
        Djenar merupakan Penulis perempuan yang mengedepankan masalah seksualitas dan eksploitasi sebagai salah satu bentuk pendobrakan nilai-nilai moral yang mengangkat sisi kelam dan trauma seksual. Karya-karya Djenar sebagian besar menghadirkan masa remaja yang penuh dengan ketidaktahuan dan rentan terhadap kekerasan seksual dengan tokoh yang digambarkan ada yang menikmati dan ada pula yang merasa dilecehkan. Selain itu terdapat tema perselingkuhan dan seks bebas.
        Buku pertama Djenar yang berjudul Mereka Bilang Saya Monyet! telah cetak ulang sebanyak delapan kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain juga akan diterbitkan dalam Bahasa Inggris. Cerpen "Waktu Nayla" menyabet predikat cerpen terbaik Kompas 2003 , yang dibukukan bersama cerpen "Asmore" dalam antologi cerpen pilihan Kompas.
Sementara cerpen "Menyusu Ayah" menjadi cerpen terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa inggris dengan judul "Suckling Father" untuk dimuat kembali di dalam Jurnal Perempuan versi bahasa inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan. Buku keduanya, "Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) juga meraih sukses dan cetak ulang kedua hanya dua hari setekah buku itu diluncurkan pada bulan Februari 2005. Kumpulan cerpen ini berhasil meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Nayla adalah novel pertama Djenar yang juga diterbitkan oleh Gramedia pustaka Utama. Bukunya yang terbaru berjudul Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, yang merupakan kumpulan cerpen.
Buku 1 PEREMPUAN 14 LAKI-LAKI yang merupakan Buku Kumpulan Cerpen yang diluncurkan pada tahun 2011. buku ini adalah hasil kolaborasinya dengan 14 sahabat dari pelbagai macam profesi yaitu Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet Kartaredjasa, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX , Lukman Sardi,  Mudji Sutrisno, SJ, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, Totot Indrarto. Cerpen Bukumuka yang dianalisis ini adalah hasil kalaborasi Djenar dengan Nugroho Suksmanto.
Nugroho Suksmanto lahir di Semarang, 12 November 1952 diperbatasan kawasan Pendrikan dan Kampung Magersari. Ia menempuh pendidikan di SD Pendrikan Tengah III, SMP I, SMA I Semarang, meraih gelar insinyur dari Jurusan Arsitektur ITB, dan melanjutkan studi di University of Southern California, USA. Petualangan Celana Dalam adalah kumpulan cerpen pertamanya.

1.4   Landasan Teoritis
Menurut Culler (1983), kritik sastra feminisme adalah membaca sebagai perempuan. Maksudnya yaitu kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin pada makna dan perebutan makna karya sastra. Setiap karya sastra dapat dijadikan cermin anggapan-anggapan estetika dan politik mengenai gender, oleh Millet (1970) disebut sebagai “politik seksual”. Lain halnya dengan Simone de Beauvoir, seorang pelopor faham feminis sesudah perang, yang menerbitkan bukunya (1949) tentang the second sex, menaruh perhatian terhadap studi tentang penindasan perempuan, dan konstruksi feminitas oleh laki-laki. Wollstone Craft yang nenuntut hak-hak wanita dalam bukunya “Vindication of the Right of Women” (1792):
Wanita seharusnya menerima perlakuan yang sama dengan pria dalam hal pendidikan, kesempatan kerja dan politik serta standar moral yang sama harus diterapkan pada kedua jenis kelamin tersebut”.
     Adapun menurut Oakley (1972) dalam Sex, Gender, and Society, gender berarti perbedaan yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan. Perbedaan biologis adalah perbedaan jenis kelamin (sex) yang merupakan kodrat Tuhan, dan oleh karenanya secara permanen berbeda. Adapun gender adalah perbedaan perilaku (behavioral differences) antara laki-laki dan perempuan, yakni perbedaan yang bukan kodrat atau bukan ketentuan Tuhan, melainkan diciptakan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang. Oleh karena itu, gender berubah dari masa ke masa. Perhatikan pernyataan Engels, "Revolusi bukan jaminan. Persamaan bagi laki-laki dan perempuan dirasa tidak cukup, karena kaum perempuan tetap dirugikan dengan adanya tanggung jawab domestik mereka, maka perempuan akan mencapai keadilan sejati jika urusan mengelola rumah tangga diubah bentuknya menjadi industri sosial, serta urusan menjaga dan mendidik anak menjadi urusan publik." Demikian teori Marxis klasik, terjadinya perubahan status perempuan hanya dapat melalui revolusi sosialis dengan cara menghapus pekerjaan domestik (rumah tangga).
Gerakan kaum perempuan di Indonesia dibuka oleh pikiran-pikiran Kartini yang dituangkan melalui surat-surat kepada temannya, beberapa perempuan Belanda yang memiliki pikiran progresif. Pikiran-pikirannya mengandung “perspektif berbeda” tentang kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki dibandingkan pemikiran dominan kala itu. Dia menyadari adanya perbedaan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki, dimana perempuan selalu dituntut untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Selain itu Kartini banyak mengritik penindasan terhadap perempuan, seperti pembedaan dan pembatasan pendidikan perempuan serta kekerasan dalam pernikahan. Secara tegas putri Bupati Rembang itu menyebutkan bahwa pendidikan adalah syarat utama untuk membebaskan diri dari segala bentuk eksploitasi perempuan.

1.5  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang diajukan sebagai berikut:
1)      Bagaimanakah struktur cerita pada cerpen Bukumuka karya Djenar Maesa Ayu?
2)      Adakah unsur eksploitasi dan penindasan terhadap perempuan pada cerpen Bukumuka karya Djenar Maesa Ayu?
3)      Apakah amanat yang terkandung dalam cerpen tersebut?
















BAB II
ANALISIS STRUKTUR CERPEN BUKUMUKA KARYA DJENAR MAESA AYU DAN NUGROHO SUKSMANTO
2.1 Analisis Sintaksis
Episode
Pengertian episode: bagian dari teks yang mengandung transformasi dan tergabung dalam keseluruhan cerita.
Hubungan antar episode
Sebuah teks bisa menampilkan banyak transformasi
1.       Transformasi Tingkatan (hirarki)
Cerita pada dasarnya terdiri dari sebuah transformasi umum (besar)  yang muncul jika kita membandingkan situasi akhir dan situasi awal dari cerita tersebut. Kemudian dalam proses membaca, kita akan menemukan transformasi-transformasi lain yang berpengaruh terhadap keseluruhan cerita. Struktur tingkatan dapat digambarkan oleh skema berikut:
               
               
                                     t                                                               t                   t  














 
                                                                           t


 
Transformasi Umum
2.       Transformasi beruntun (suksesif)
Cerita tidak mengandung sebuah transformasi umum tetapi sebuah jalinan transformasi. Maksudnya, situasi akhir dari sebuah episode membentuk situasi awal baru yang diikuti dengan transformasi berikutnya. (output sebuah transformasi menghasilkan input transformasi berikutnya)

Alur dan Pengaluran merupakan rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat. Cerpen Menyusu Ayah menggunakan pengaluran maju mundur. Dapat  dilihat pada rangkaian segmentasi episodik dibawah ini.
s                                                                   t                                                              s’
Kusmanto yang mengingat Ayu          Dari situs pertemanan Ayu dan        Status Ayu yang telah Kusmanto saling mengenal                  memiliki suami dan
                                                                                                                        Kusmanto yang telah
                                                                                                                        Memiliki istri
s                                                                    t                                                              s’’
  Status Ayu yang sudah                      Kusmanto yang menganggap             Ayu yang lama
  memiliki suami dan                          Ayu berbeda dengan                           menghilang kembali
  Kusmanto yang telah                        perempuan lain                                  menghubungi
  Memiliki istri                                                                                                            Kusmanto
s                                                                    t                                                              s’’’
  Ayu yang lama menghilang              Suami Ayu mendatangi                       Ketakutan Kusmanto
  kembalimenghubungi                                   Kusmanto
  Kusmanto

Ada 3 episode dalam cerpen Bukumuka ini. Semuanya memperlihatkan transformasi-transformasi  dalam cerita. Cerita ini berawal dari Kusmanto yang merasa kesepian semenjak ditinggalkan Ayu yang merupakan perempuan yang pernah menjadi teman kencannya. Kusmanto mengenal Ayu dari jejaring situs pertemanan yang jika dalam bahasa indonesia Berarti BUKUMUKA. Pertemanan itu berlanjut hingga mereka sering bertemu disebuah tempat sederhana untuk memuaskan diri mereka. Ayu telah mengetahui jika Kusmanto telah memiliki istri dan anak, sebaliknya juga kusmanto tahu jika Ayu telah memiliki suami. Namun mereka seolah-olah tidak peduli dengan status mereka, yang mereka pikirkan hanya kenikmatan. Kusmanto menganggap Ayu berbeda dengan perempuan lain, Ayu tidak canggung untuk mengajak kencan terlebih dahulu. Kalimat romantis hingga erotis sering Ayu luncurkan, dan itu membuat Kusmanto tidak bisa menolak Ayu. Ayu yang telah lama menghilang tiba-tiba menghubungi Kusmanto dan mengatakan ia telah memiliki anak. Ayu juga mengatakan agar Kusmanto berhati-hati karena suaminya sedang mencari Kusmanto. Kusmanto pun panik seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ayu. Karena sebelumnya suami Ayu juga menghubungi Kusmanto.
Kemudian transformasi juga kembali ketika suami Ayu mendatangi Kusmanto. Pada hari itu setelah Kusmanto mendapat panggilan dari Ayu dan Rudi suami Ayu, Rudi tiba-tiba sudah ada dikantor Kusmanto. Kusmanto pun kaget dan ketakutan, ia menyesali dengan apa yang ia lakukan dengan Ayu.
2.2 Analisis Semantik
1. Tokoh dan Penokohan
Tokoh pada cerpen Bukumuka karya Djenar Maesa Ayu adalah Ayu, Kusmanto, Rudy, dan Istri Kusmanto. Tokoh pertama yaitu Ayu. Ia adalah perempuan yang telah memiliki suami yang belum memiliki anak kemudian ia berselingkuh dengan Kusmanto yang telah memiliki istri untuk memenuhi kebutuhan birahinya yang tidak ia dapatkan dari suaminya. Ayu merupakan seorang istri yang tidak pantas ditiru karena perbuatannya yang jauh dari kata baik. Meskipun Ayu bukan tipe orang yang suka merebut suami orang, namun tetap saja karena perbuatannya ia melukai hati sesama perempuan yaitu istri Kusmanto.
Kedua yaitu Kusmanto yang merupakan selingkuhan Ayu. Ia telah beristri dan memiliki dua orang anak. Ia bekerja dikantoran, berpakaian rapi, memiliki kelopak mata yang hitam. Kusmanto adalah tipe lelaki yang suka bermain perempuan seperti pada kutipan “. . . . sudah biasa Kusmanto mengoleksi setiap desah dari macam-macam perempuan.”
Ketiga yaitu Rudy. Ia memiliki perawakan tinggi tegap dan berotot, ia memiliki sifat arogan, dan ia merupakan lelaki homoseksual seperti pada kutipan “ . . . tangan Rudy yang semula menggenggam pundaknya perlahan turun kedada, perut dan tepat kearah selangkangan dipangkal pahanya didkiranya Rudy akan mencekik leher burungnya ternyata Rudy hanya menjamah dengan sentuhan dan pijatan yang hendak sudah merangsang berahi mereka berdua”
Keempat yaitu Istri Kusmanto
2. Analisis Latar atau Setting      
Latar tempat diketahui terjadi dikantor Kusmanto seperti pada kutipan “. . . dilantai 36 gedung kantornya Kusmnato tercenung” latar ditempat yang sama yakni dikantor Kusmanto juga terjadi ketika Rudy datang menemui Kusmanto. Didalam garasi ketika Ayu dan Kusmanto melakukan hubungan badan seperti pada kutipan “. . .  sebagaimana biasa pintu garasi berada dalam keadaan setengan terbuka”
Sedangkan latar waktu diperkirakan terjadi pada pagi dan siang hari seperti pada kutipan “. . . pagi yang muram terbentuk jauh diufuk burung hantu mulai terkatuk-katuk dilantai 36 gedung kantornya Kusmanto tercengang”
3. Analisis Tema
Tema yang terkandung dalam cerpen Bukumuka adalah “perselingkuhan” hal ini terlihat jelas dalam cerita Pertemuan Ayu dan Kusmanto hingga melakukan hubungan badan. Kebohongan juga terjadi ketika ayu memiliki anak, ia mengatakan pada suaminya bahwa anak itu adalah anak dari suaminya. Meski suaminya tidak percaya dan melakukan tes DNA hingga akhirnya terbukti bahwa anak itu bukanlah anak dari suaminya. Perselingkuhan tidaklah dibenarkan dalam agama apapun, perbuatan ini tidak selayaknya ditiru karena kebahagiaan yang didapat dari perselingkuhan itu hanya hanyalah kebahagiaan sesaat. Ini terbukti ketika Kusmanto mulai resah dan hidupnya tidak nyaman ketika suami Ayu (Rudy) menemuinya.
2.3 Analisis Pragmatik
Analisis Sudut Pandang Pengarang
Pengarang hadir di luar cerita (ekstern) karena diwakilkan oleh nama-nama tokoh. Tipe pencerita pada cerpen bukumuka karya djenar maesaayu adalah narasi dan penggambaran tokoh. Bentuk narasi seperti pada kutipan “pagi yang muram terbatuk jauh di ufuk. Burung hantu mulai terkatuk-katuk. Dilantai 36 gedung kantornya, kusmanto tercenung. Jelaga keletihan menggelayut dibawak kelopak matanya yang menghitam. Begitu banyak masalah yang belum terselesaikan namun mustahil untuk begitu saja lari dan melupakan” sedangkan penggambaran tokoh yang ditonjolkan adalah Kusmanto dan Ayu, karena mendominasi dalam alur cerita.




















BAB III
ANALISIS KRITIK SASTRA FEMINISME
3.1 Prasangka Gender
Feminisme muncul akibat dari adanya prasangka jender yang menomorduakan perempuan. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempuan mengakibatkan perempuan dinomorduakan. Perbedaan tersebut tidak hanya pada kriteria sosial budaya. Asumsi tersebut membuat kaum feminis memperjuangkan hak-hak perempuan di semua aspek kehidupan dengan tujuan agar kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan kaum laki-laki
Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki. Berkaitan dengan feminisme, maka muncullah istilah equal right's movement atau gerakan persamaan hak. Cara lain adalah membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga. Cara ini sering dinamakan women's liberation movement, disingkat women's lib atau women's emancipation movement, yaitu gerakan pembebasan wanita (Saraswati, 2003: 156).
Kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan (Djajanegara, 2000: 27). Kedua hasrat tersebut menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Misalnya, dalam meneliti citra wanita dalam karya sastra penulis wanita, perhatian dipusatkan pada cara-cara yang mengungkapkan tekanan-tekanan yang diderita tokoh wanita.

3.2 Ketidakadilan Gender
Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri. Ketidakadilan gender  terjadi kepada istri Kusmanto. Seorang wanita yang telah memberi empat orang anak dikhianati oleh suami nya yang berselingkuh dengan wanita lain. Disisi lain Kusmanto sangat menyayangi keluarganya, namun ia tak kuasa menahan godaan dari Ayu. Ketika Kusmanto kehilangan Ayu, Kusmanto pun kehilangan birahinya kepada wanita termasuk kepada istrinya.
3.3 Eksploitasi Prempuan
Perselingkuhan adalah hubungan yang terjadi ketika salah satu atau kedua-duanya dari pasangan selingkuh tersebut telah terikat hubungan pernikahan dengan orang lain. Hubungan tersebut dikatakan sebagai perselingkuhan karena pada umumnya pasangan resminya tidak mengetahui hal tersebut. Perselingkuhan antara Ayu dengan Kusmanto dapat dikatakan untuk menunjukkan rentannya hubungan perkawinan. Ayu yang sudah menikah, tetapi belum memiliki anak dan ia merindukan lelaki yang bisa memuaskan birahinya maka dengan mudah Ayu mendekati lelaki lain yang sudah memiliki istri. Hal ini terbukti pada kutipan “Geram Kusmanto terhadap ketololannya sendiri. Bagaimana Kusmanto bisa tahu kalau selama ini ternyata Ayu sengaja mencari mangsa bagi indung telurnya yang sudah rindu dibuahi. Pantas selama ini Ayu tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat-kalimat yang menggoda sengaja ia tumpahkan sebagai umpan untuk menjerat mangsa”. Juga pada kutipan “ terimakasih karena kamu sudah memberi keturunan yang saya sangat dambakan selama ini karena tidak bisa diberikan oleh suami saya sendiri”.
      


BAB IV
KESIMPULAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah yang ditulis di bab sebelumnya dapat diuraikan bahwa poin (1) yaitu struktur cerita yang meliputi tokoh dan penokohan, alur dan pengaluran, latar, tema, dan sudut pandang. Tokoh pada cerpen Bukumuka karya Djenar Maesa Ayu adalah Ayu, Kusmanto, Rudy, dan Istri Kusmanto. Tokoh pertama yaitu Ayu. Ia adalah perempuan yang telah memiliki suami yang belum memiliki anak kemudian ia berselingkuh dengan Kusmanto yang telah memiliki istri untuk memenuhi kebutuhan birahinya yang tidak ia dapatkan dari suaminya. Ayu merupakan seorang istri yang tidak pantas ditiru karena perbuatannya yang jauh dari kata baik. Meskipun Ayu bukan tipe orang yang suka merebut suami orang, namun tetap saja karena perbuatannya ia melukai hati sesama perempuan yaitu istri Kusmanto.
Kedua yaitu Kusmanto yang merupakan selingkuhan Ayu. Ia telah beristri dan memiliki dua orang anak. Ia bekerja dikantoran, berpakaian rapi, memiliki kelopak mata yang hitam. Kusmanto adalah tipe lelaki yang suka bermain perempuan seperti pada kutipan “. . . . sudah biasa Kusmanto mengoleksi setiap desah dari macam-macam perempuan.”
Ketiga yaitu Rudy. Ia memiliki perawakan tinggi tegap dan berotot, ia memiliki sifat arogan, dan ia merupakan lelaki homoseksual seperti pada kutipan “ . . . tangan Rudy yang semula menggenggam pundaknya perlahan turun kedada, perut dan tepat kearah selangkangan dipangkal pahanya didkiranya Rudy akan mencekik leher burungnya ternyata Rudy hanya menjamah dengan sentuhan dan pijatan yang hendak sudah merangsang berahi mereka berdua”
Keempat yaitu Istri Kusmanto
Poin (2) yaitu eksploitasi terhadap perempuan. Cerpen karya Djenar ini bertemakan Perselingkuhan antara dua orang yang telah memiliki pasangan. Ayu yang merasa kesepian dan tidak bahagia dalam menjalani pernikahan dengan suaminya karena menginginkan seorang anak dimanfaatkan oleh Kusmanto yang senang bermain perempuan. Bahkan eksploitasi juga dirasakan Istri Kusmanto yang menjadi korban atas perbuatan suaminya sendiri.
Poin ke (3) yaitu Amanat. Amanat yang disampaikan pada Cerpen ini adalah, perselingkuhan bukanlah cara yang baik untuk memenuhi keinginan seseorang. Keinginan memiliki anak maupun untuk memuaskan diri. Dengan perselingkuhan banyak pihak yang akan merasa tersakiti. Contohnya Ayu yang memiliki anak, suaminya tidak percaya bahwa itu adalah anaknya.
5.2 Saran


No Name. Gramedia Pustaka Utama. [Online]. Tersedia:  www.gramediapustakautama.com/penulis-detail/36153/Nugroho-Suksmanto. Dipunggah pada 20 November 2011
Maesaayu, Djenar. 1 perepmpuan 14 laki-laki. [Online]. Tersedia:  djenar.com/1-perempuan-14-laki-laki-4-296.php.Dipunggah pada 20 November 2011










BUKUMUKA
Karya Djenar Maesa Ayu & Nugroho Suksmanto
Pagi yang muram tebatuk jauh diufuk. Burung hantu mulai terkatuk-katuk. Dilantai 36 gedung kantornya, Kusmanto tercenung. Jelaga keletihan menggelayut dibawah kelopak matanya yang menghitam. Begitu banyak masalah yang belum terselesaikan namun mustahil untuk begitu saja lari dan melupakan.
Tersisa dalam angan Kusmanto, ganjalan perasaan yang membuatnya gundah. Terus saja membayang walaupun kadang hanya membersit samar. Semakin Kusmanto paksa untuk melupakan, terasa bayangan itu semakin berkeinginan untuk menghampiri.
Pertanda tekad Kusmanto tak sekuat alam bawah sadarnya yang selalu memunculkan penggal-penggal kemelut yang membuatnya kecut. Kadang mengancam kadang menghadang. Dan tak jarang hanya tertawa melecehkan.
Suara dering telepon membuat gelembung angan kusmanto seketika meletus. Dering telepon itu sama sekali tak terdengar tulus. Kusmanto rasakan dibelakang gagang telepon itu telah siap menunggu malaikat pencabut maut. Dengan samurai yang terselip dipinggangnya yang menunggu dengan tak sabar untuk segera dicabut.
Teak terasa butirak keringat menyembul membasahi dahi Kusmanto. Pada saat-saat seperti itu, betapa Kusmanto merindukan seseorang yang tiap lekuk tubuhnya selalu terbayang. Lamunannya pun dengan cepat melesat menggapai peristiwa ketika mereka berdua sengaja menyatukan denyut rindu setelah begitu lama hanya menjalin tali rasa dan kata-kata melalui Bukumuka, nama sebuah situs pertemanan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Situs itulah yang mempertemukan mereka dan berlanjut ke sebuah pesanggrahan berbilik-bilik sederhana yang dilengkapi naungan mobil berpintu sekadarnya. Di sana, Kusmanto sering dengan leluasa mendaki tubuh Ayu, perempuan yang namanya tercantum pada situs Bukumuka miliknya. Sesukanya, Kusmanto menapaki tiap bukit dan lembah yang semakin lembab dan basahh. Peraduan, selebihnya sarat akan gelinjang dan desah.
Sudah biasa Kusmanto mengoleksi tiap desah dari macam-macam perempuan. Namun dengan Ayu, Kusmanto merasakan adanya perbedaan. Perempuan-perempuan lain biasanya hanya menunggu untuk didahului. Harus dulu melampaui ritual basa-basi walau akhirnya tak menolak juga jika digauli. Hal itu sangat berbeda denga Ayu. Perempuan yang masih bersuami ini tidak segan-segan mengajak Kusmanto berkencan duluan. Kalimat-kalimat romantis hingga erotis meluncur deras setiap kali mereka online. Menawarkan melulu kenakalan dengan janji tak akan diakhiri dengan embel-embel penyesalan. Membuat laki-laki mana pun tak akan kuasa menolak seperti kucing yang disodori lauk ikan.
“Keluarkan saja di dalam!” pinta Ayu kali pertama mereka melakukannya. Tak terbesit sedikit pun rasa curiga di benak Kusmanto saat itu. Ayu masih menyandang status Istri. Tak mungkin ia gegabah jika tak mau diceraikan suaminya. Ia pun bukan tipe perempuan perebut suami orang. Jelas terasa, tak ada  dalam kamus di benak Ayu untuk mengakhiri pertemanan dengan hubungan yang lebih dalam. Ya, pasti Ayu sudah sangan berpengalaman sehingga ia bisa merasa nyaman bersetubuh tanpa pengaman sehingga ia bisa merasa nyaman bersetubuh tanpa pengaman, pikir Kusmanto. Apakah Ayu sudah menongonsumsi pil anti hamil, atau sedang masa tak subur, atau bahkan mandul, semua itu sama sekali tidak Kusmanti hiraukan. Yang Kusmanto butuhkan sepenuhnya kenikmatan.
Selanjutnya mereka menjalin pertemuan demi pertemuan. Selalu di pesanggarahan yang sama, hanya kadang biliknya berbeda. Sebagaimana biasa, pintu garasi berada dalam keadaan setengah terbuka. Tak pernah sekali pun Ayu meminta bertemu di penginapan yang lebih mewah atau hotel berbintang lima. Kusmanto pun semakin kesenangan. Sebagai laki-laki yang juga berstatus suami orang dengan empat orang anak, selain kenikmatan, keamanan adalah juga satu hal yang harus ia utamakan.
Suara dering telepon  telah berhenti dan berganti dengan suara mesin menyimpan pesan. Napas Kusmanto sejenak tertahan. Sejenak yang terasa bagai  tanpa akhir karena waktu begitu lama terasa bergulir.
“saya tahu kamu masih ada di sana. saya sudah cek rumah kamu dan bicara langsung dengan istrimu. Dia sendiri yang bilang kamu masih ada di kantor dan baru saja menghubungi kamu. Jika kamu menghindar, saya akan buka rahasia kamu, tidak saja ke istri,  tapi juga ke anak-anakmu!”
Mendengar ucapan malaikat si perenggut maut, perasaan Kusmanto semakin carut marut. Rasa penyesalannya kini sudah terkalahkan oleh rasa takut. Pilihan yang dipunyainya hanya dua : menghadapi suami Ayu atau lompat saja dari lantai 36 gedung kantornya. Toh kedua pilihan itu akan barakhir dengan kematia juga.
Geram Kusmanto terhadap ketololannya sendiri.  Bagaimana Kusmanto bisa tahu kalau selama ini ternyata Ayu sengaja mencari mangsa bagi indung telurnya yang sudah merindu untuk dibuahi? Pantas selama ini Ayu tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat-kalimat yang menggoda. Sengaja ia tumpahkan sebagai   umpan untuk menjerat mangsa.
Kusmanto mulai curiga ketika Ayu  mendadak hilang. Nomor telepon maupun Bukumukanya pun tidak lagi di aktifkan. Kusmanto kelimpungan. Betapa teganya Ayu membiarkan dirinya tersiksa bagai buaya terlalu lama berada di daratan. Lebih satu tahun lamanya Kusmanto kehilangan berahi. Baik kepada perempuan lain maupun istri. Hingga suara begitu dirindu Kusmanto itu menghubunginya suatu hari.
“Mas, suami saya sedang cari kamu. Segera ganti nomor telepon kamu”
“Apa?” Kusmanto seperti disambar geledek disiang bolong.
“Saya hamil dan saya melahirkan beberapa bulan yang lalu. Dia anak kamu. Tetapi sayang tak pernah mengatakan itu. Semula saya tetap bersikukuh itu anaknya. Tapi suami saya tidak percaya. Saya dipaksa tes DNA.”
“Ayu! Apa-apaan ini?”
“Sudahlah Mas, saya Cuma mau kasih tahu kamu supaya hati-hati. Dan terima kasih karena kamu sudah memberi keturunan yang saya sangat dambakan selama ini karena tidak bisa diberikan oleh suami saya sendiri.”
Hubungan berhenti begitu saja saat itu. Seperti ada sebuah gunting raksasa yang baru saja memutus dunia Kusmanto. Apakah ini? Kenyataan atau Mimpi? Seolah tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang membebani, tiba-tiba terdengar suara intercom memanggil di mejanya. Cahaya merah yang berkedip-kedip di atasnya terlihat seperti sinar laampu ambulans yang mengisyaratkan satu keadaan gawat. Kusmanto menkan tombol intercom  dengan jari tangan yang sudah diliuti keringat.
“ Pak, ada tamu ingin bertemu. Katanya penting. Dia memaksa masuk. Sekarang boleh...”
Tidak sampai sekretaris Kusmanto meneruskan kalimatnya, terdengar suara ribut-ribut dekat sekali dan tak disangka-sangka pintu kantor Kusmanto mendadak terbuka. Seorang laki-laki berdiri di sana, berperawakan tinggi, tegap, dan berotot. Memandang  Kusmanto dengan tatapan mata melotot.
“Jadi kamu Kusmanto! Saya Rudy, suami Ayu!” katanya tegas sambil menutup pintu di belakangnya yang dengan segera berdegam kencang sekali.
Kusmanto belum sempat menjawab ketika tangan berotot Rudy sudah terlanjur memegang pundaknya dengan keras.
“Kamu pikir selama ini saya tidak tahu kalau kamu diam-diam berhubungan dengan istri saya? Kamu pikir saya goblog percaya begitu saja kalau yang di kandung Ayu adalah anak saya?”
Lutut Kusmanto seperti kehilangan tulang. Hampir saja ia kencing di celana ketika tangan kanan Rudy yang semula menggenggam  pundaknya, perlahan turun ke dada, perut, dan tepat ke  tengah selangkangan  di pangkal pahanya. Di kiranya Rudy akan mencekik leher burungnya. Ternyata Rudy hanya menjamah dengan sentuhan  dan pijatan yang seolah hendak merangsang berahi mereka berdua. Membuat Kusmanto benar-benar kencing di celana!
Beruntung pada saat bersamaan, satpam gedung kantor dan sekretaris Kusmanto menyeruak masuk.
“Tenang, saya tahu benar siapa kamu dan di mana keluarga kamu tinggal,” bisik Rudy di telinga Kusmanto. Mendengar itu Kusmanto yang semula tak bekerja, segera di hidupkan. Setengah berteriak ia berkata ke arah sekretaris dan satpam.
“Ngapain kalian kemari?”
Satpam segera mengalihkan perhatian ke arah sekretaris. Merasa  tak mau di salahkan, akhirnya sekretaris Sukmanto buka suara.
“Saya pikir terjadi hal yang tak diinginkan dengan bapak. Soalnya bapak ini tadi memaksa masuk. Jadi saya panggil satpam.”
“Tidak ada apa-apa. Bapak ini kerabat saya. Kenalan lama. Teman dekat. Hanya sudah lama tak jumpa. Rudy namanya. Dan sekarang sudah siap mau pulang. Oke, silahkan, Bung Rudy!”  kata Kusmanto seraya mempersilakan Rudy keluar. Mereka pun berjabat tangan.
“Besok saya telepon kamu lagi, Manto. Selamat siang.” Kata Rudy sambil mengerling penuh  arti dan menyampaikan Amplop sebelum tubuhnya menghilang. Sekretaris dan satapam mengikuti di belakang Rudy sambil mencuri pandangan ke arah celana panjang Kusmanto yang terlihat basah.
Perlahan Kusmanto membuka amplop yang ia terima. Ternyata berisi foto-foto garasi dengan pintu menggantung setengah terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah mobil berteduh menunggu pertemuan kelam majikannya. Mata Kusmanto kemudian menerawangg, jauh menggapai tempat maksiat yang bersembunyi di balik bangunan-bangunan tinggi mencuat. Otaknya menebak-nebak sebenarnya siapa yang sengaja memasang perangkap?
Pagi yang muram mulai tebatuk jauh di ufuk.  Burung hantu pun terkatuk-katuk. Di lantai 36 gedung kantornya, Kusmanto tercenung. Dilema yang ia rundung membuat harinya semakin mendung. Pertanyaan menyeruak di benaknya, apakah lebih baik menghadapi suami Ayu yang akan menuntu pertanggung jawaban dengan cara mengharapkan  kenikmatan senggama gila darinya, atau  melompat saja dari lantai 36 gedung kantornya? Toh kedua pilihan itu akan berakhir dengan kematian juga, walaupun beda ujudnya.

0 komentar:

Poskan Komentar